Guru, Tuhan dimana?

Guru, di mana aku bisa bertemu Tuhanku?

di langit bershaf tujuh?

di altar penyembelihan ternak kurban?

di mihrab-mihrab masjid yang berlantai pualam?

pada bangunan kubus tua peninggalan Ibrahim itu?

atau pada padang makrifat yang membisu?

Guru, di mana aku bisa bertemu Tuhanku?

pada jamuan malam para pemuja harta?

pada pojok penderitaan kaumku?

pada perut kosong yang papa?

atau pada jiwaku yang membeku?

pada ragaku yang membiru?

di mana, Guru, kemana?

Jawab Guru:

“Anda akan ketemu Allah,

ketika tiada satu nilai pun di jagat raya ini

dapat kau tegakkan di dalam kehidupanmu?”

Maksudnya, Guru?

“Tak ada nilai dalam ruang dan waktu ini

yang bisa kau analogikan (kau sejajarkan)

dengan momen jumpa Tuhan.”

Jadi, Guru, apakah kita harus lepas dari ruang dan waktu?

“Pokoknya tak bisa diumpamakan,

tak bisa ditanya di mana dan kapan,

hanya bisa dihayati oleh orang yang mendapat ridhaNya?”

Terima kasih, Guru.

Mlangi-Tuban, 20-12-2007

Mohammad Nurfatoni

(dimuat Surabaya Post, Minggu 27 Januari 2008)


About this entry